Grup Fisikawan 22 Juni 2009
Posted by retnofisika in IPTEK.Tags: fisika, Group, teori
add a comment
19 Mei 2003 : Grup Fisikawan Teoritik Indonesia Berdiri
-
GRUP Fisikawan Teoritik Indonesia (GFTI) adalah organisasi informal komunitas fisika teoritik di Indonesia. Secara resmi GFTI berdiri tanggal 19 Mei 2004 saat Workshop on Theoretical Physics 2K4 di Universitas Indonesia, Depok.
Fisika teoritik sendiri didefinisikan sebagai “semua subbidang fisika yang mengkaji aneka aspek ilmu fisika itu sendiri”. Sebagai sebuah organisasi informal, GFTI didasarkan pada prinsip nonkomersial, bebas biaya, nonpolitik, transparan, independen, serta tidak membedakan anggotanya berdasarkan ras, agama, dan latar belakang lainnya.
Berbeda dengan organisasi profesi lainnya, GFTI dikelola secara murni virtual tanpa kepengurusan yang tetap sesuai dengan organisasi modern di era digital. Dengan sistem ini, organisasi tidak merepotkan sebagian anggota yang kebetulan menjadi pengurus, dan bisa lebih fokus pada substansi kegiatan sesuai tujuan organisasi.
Sebagai kegiatan riil, GFTI memayungi konsorsium penyelenggara Workshop on Theoretical Physics yang diadakan setiap tahun dengan lokasi bergantian di antara lembaga anggota konsorsium.
Bersama Masyarakat Komputasi Indonesia (KMI), GFTI menerbitkan jurnal ilmiah berkala yang difokuskan pada aspek teori dan komputasi untuk aneka kajian ilmiah.
Jurnal yang diproses dan diterbitkan secara online penuh ini bertajuk Journal of Theoretical and Computational Studies.
Sumber : Media Indonesia (19 Mei 2009)
E= m c2, 22 Juni 2009
Posted by retnofisika in IPTEK.Tags: fisika, penemuan, rumus
add a comment
103 Tahun Penemuan E = m c2, Terbukti Benar
srn
Sudah lebih dari satu abad sejak dikemukakannya formula E = m c2 dari Einstein dan ternyata formula tersebut terbukti benar berkat adanya kolaborasi komputasi dari ilmuwan Perancis, Jerman dan Hungaria.
Konsorsium ilmuwan yang dipimpin oleh Laurent Lellouch dari Pusat Teori Fisika Perancis berhasil menemukan kalkulasi untuk mengestimasi massa proton dan neutron, partikel terkecil dari atom, dengan bantuan teknologi superkomputer.
Menurut model konvensional dari partikel fisika, proton dan neutron terdiri dari partikel kecil bernama Quarks, yang diikat dengan materi bernama Gluons. Anehnya, massa Gluons dideteksi berjumlah nol dan kumpulan quarks hanya berjumlah lima persen. Lalu, kemanakah 95 persen lainnya?
Berdasarkan hasil studi yang disampaikan pada Journal Science Amerika menyatakan bahwa massa 95 persen tersebut berasal dari energi yang datang dari gerakan dan interaksi milik quark dan Gluon. Dengan kata lain, energi dan massa adalah sepadan, sama dengan teori Relativitas milik Einstein yang mencuat pada tahun 1905.
Formula E = m c2 menunjukkan bahwa massa dapat dikonversikan menjadi energi, dan begitu juga sebaliknya.
“Hingga sekarang, formula ini hanyalah sekedar hipotesis. Dan saat ini formula tersebut telah terbukti keampuhannya untuk pertama kali,” ujar juru bicara Pusat Teori Fisika Perancis, seperti dikutip melalui AFP, Jumat (21/11/2008).
Sumber : okezone.com (21 November 2008)
Transistor Grafin 22 Juni 2009
Posted by retnofisika in IPTEK.Tags: cepat, fisika, komputer, transistor
add a comment
Transistor Grafin : Untuk Prosesor Super Cepat
Tahukah berapa kecepatan prosesor komputermu saat ini? Kecepatan prosesor notebook atau netbookmu saat ini? Tahukah berapa kecepatan prosesor komputer tercepat saat ini? Ternyata semua masih dalam angka Mega Hertz (MHz) atau Giga Hertz (GHz).
Pernahkah membayangkan bagaimana rasanya menggunakan komputer super cepat dengan kecepatan prosessor 40 Terra Hertz (40.000 GHz)?
Inilah yang sedang didesain oleh seorang profesor teknik fisika bernama Walter de Heer. Pada tahun 2008 lalu dia menemukan sebuah bahan untuk membuat semikonduktor guna dipakai dalam perangkat eletronik termasuk prosesor komputer. Bahan tersebut adalah grafin, suatu bentuk baru dari karbon. Selama ini bahan semikonduktor yang digunakan dalam sirkuit elektronik berasal dari silikon. Material yang banyak kita temui dalam isi pensil.
Sebelumnya telah dibuat model-model karbon yang diperkirakan bisa menjadi bahan semikonduktor yang lebih baih dari silikon. Dan ternyata menurut model tersebut grafin salah satu yang paling cocok.. Satu lapis karbon dengan ketebalan 1 atom dapat dibuat menjadi transistor dengan kecepatan ratusan kali lebih cepat daripada transistor silikon saat ini. Bersama dengan laboratorium Lincoln MIT, Walter membuat ratusan transistor grafin pada sepotong chip. Hasilnya makin menguatkan bahwa grafin bisa menjadi bahan transistor generasi masa depan.
Dia menambahkan, komputer berbasis transistor silikon saat ini hanya bisa menjalankan sejumlhha operasi saja per detiknya tanpa over heating. Namun dengan grafin, elektron bisa bergerak lebih cepat hampir-hampir tanpa hambatan sehingga panas yang diihasilkan juga kecil. Terlebih lagi,, bahan grafin sendiri adalah bahan konduktor panas sehingga panas yang dihasilkan bisa segera dihilangkan dengan cepat. Oleh karenanya elektronik berbasis grafin akan bekerja dengan jauh lebih cepat.
“Saya meyakini bahwa kita bisa membuat (prosesor) terra hertz – sebuah faktor 1000 kali dari giga hertz.” tandas Walter.
Selain menjadikan koomputer lebih cepat, barang-barang elekktronik berbasis grafin akan sangat bermmanfaat untuk teknologi komunikasi dan imaging yang memerlukan transistor ultra cepat.
Penggunaan grafin pertama adalah pada aplikasi freekuensi tinggi seperti imaging gelombang terahertz, yang dapat digunakan untuk mendeteksi senjata tersembunyi.
Selain pada kecepatannya ada nilai lebih lagi dari grafin dibandingkan silikon. Silikon tidak bisa “diukir” menjadi sirkuit elektronik dengan ukuran lebih kecil dari 10 nanometer tanpa kehilang properti elektroniknya. Namun grafin akan tetap sama propertinya – bahkan properti elektroniknya makin tinggi – pada ukuran 1 nanometer.
Ketertarikan terhadap grafin bermula dari penelitian nanotube karbon. Nanotube karbon, yang pada dasarnya merupakan lembaran grafin yang digulung menjadi silinder, mempunyai properti elektronik yang bisa menjadi komponen elekktronik kinerja tinggi.
Walter membuat sirkuit elektronik pada grafin tersebut dengan metode yang sama untuk membuat sirkuit silikon. Dan oleh karenannya sekarang perusahaan-perusahaan semikonduktor berbondong-bondong mengajukan kerjasama dengan sang profesor.
Meskipun demikian, dengan banyaknya kelebihan grafin dibandingkan silikon ternyata grafin masih menyisakan 1 masalah mendasar. Silikon meski transfer elektronnya tidak secepat grafin tapi dia bisa bertindak seperti saklar, kadang bisa meneruskan arus kadang menyetop arus. Ini karakter bahan yang dibutuhkan untuk sebuah prosesor.
Sedangkan grafin konduktivitasnya memang sangat tinggi tapi dia tidak bisa bertindak sebagai saklar. Grafin sulit menjadi penyetop arus, karena resistansinya terlalu kecil dan konduktivitasnya tidak bisa dibuat nol. Konduktivitas yang tinggi akan sangat bermanfaat pada aplikasi-aplikasi tertentu semisal transistor frekuensi tinggi untuk keperluan imaging dan komunikasi. Namun sangat tidak efisien bila digunakan sebagai transistor prosesor komputer.
Meski ada kelemahan tersebut, sang profesor tidak kalah akal. Prof. Walter menjelaskan dalam sebuah seminarnya bahwa grafin bisa dibuat menjadi semikonduktor dengan 3 cara.
Pertama, dengan membuat grafin tersebut menjadi pita sempit & tipis sehingga akan menaiikan resistensinya. Dan cara kedua, dengan memodifikasi grafin secara kimiawi. Cara ketiga dengan meletakkan selapis grafin di atas substrat tertentu.
Modifikasi pita grafin dengan oksigen bisa menginduksi karakteristik semikonduktor pada grafin, jelasnya. Dengan menggabungkan ketiga metode ini, sangat dimungkinkan untuk menciptakan perilaku saklar yang dibutuhkan transistor dalam prosesor komputer.
Sekarang perusahaan-perusahaan raksasa elektronik, Hewlett-Packard, IBM, dan Intel berduyun-duyun meneliti grafin untuk pengembangan produk mereka di masa depan.
Bagaimana, ingin segera merasakan komputer berprosesor 40 Terra Hertz? Kita tunggu saja.


